Pekerja Indonesia yang berencana berkarier di luar negeri harus menyadari bahwa ada banyak budaya kerja yang sangat berbeda. Budaya kerja di luar negeri yang perlu diketahui tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup, erat pula terkait pekerjaan baik dari segi waktu, hasil, dan masih banyak lagi. Artikel ini akan membahas budaya kerja yang berbeda antara di Indonesia dengan luar negeri.

Budaya Kerja di Luar Negeri yang Perlu Diketahui

Mengetahui budaya kerja di negara asing akan membantu pekerja migran Indonesia (PMI) lebih mudah menyesuaikan diri. Dengan begitu kendala kerja bisa lebih diminimalisir.

  1. Disiplin tanpa keterlambatan

Disiplin jadi budaya kerja yang umum dijumpai di luar negeri, khususnya terkait ketepatan waktu. Tidak ada toleransi untuk keterlambatan apapun. Berbeda, di Indonesia keterlambatan justru dianggap sebagai kewajaran atau dianggap sebagai fleksibilitas. Kedua budaya ini yang berbeda sehingga pekerja harus bisa menyesuaikan diri.

  1. Orientasi pada hasil dan efisiensi

Banyak negara di luar negeri yang benar-benar berorientasi pada hasil, dan cara kerja di luar negeri mengutamakan efisiensi. Artinya sistem kerja di luar negeri tidak mengutamakan kuantitas, melainkan kualitas yang sangat terukur. Para pekerja dituntut untuk bekerja dengan hasil terbaik, cepat, dan dapat diandalkan. Hampir berbeda, di Indonesia efisiensi pekerjaan tidak benar-benar diukur dengan benar.

  1. Terus terang tanpa basa-basi

Budaya lain yang juga berbeda adalah dalam hal komunikasi. Banyak orang di negara asing justru tidak menyukai basa-basi sehingga diminta to the point, eksplisit, dan berterus terang. Kritik disampaikan dengan gamblang. Di Indonesia basa-basi sudah sangat mengakar. Bahkan kritik tidak disampaikan secara terang, melainkan dengan bahasa-bahasa simbol sehingga berimbas pada sulitnya menerima kritik dengan bijaksana.

  1. Kritik bukan ancaman

Di luar negeri, kritik bukan ancaman melainkan informasi yang membangun. Budaya itu yang membuat negara luar negeri lebih maju. Sedangkan di Indonesia tidak semua orang bisa menerima kritik. Lebih parahnya lagi kritik justru dianggap sebagai ancaman. Budaya itu yang secara tidak langsung membuat perusahaan jadi tidak berkembang.

  1. Tidak membicarakan pekerjaan di luar jam kerja

Di Indonesia seorang atasan biasa membiacarakan pekerjaan dengan bawahannya di laur jam kantor. Bahkan, atasa tak segan menanyakan pekerjaan di luar jam kerja. Kondisi tersebut sangat dihindari oleh para pekerja di luar negeri kecuali keadaan darurat. Berbeda, di banyak negara menghubungi teman untuk membicarakan urusan kerjaan di luar jam kantor dianggap tidak beretika.

Tips Menyesuaikan Diri pada Budaya Kerja Luar Negeri

Agar tidak mengalami culture shock saat bekerja di luar negeri, ada beberapa tips yang bisa diikuti oleh calon pekerja yakni sebagai berikut.

  • Pelajari kebiasaan kerja, hari libur nasional, dan etika dasar negara tujuan
  • Perhatikan pola komunikasi dan hierarki di lingkungan kerja
  • Di negara asing, bertanya justru dinilai lebih baik daripada berasumsi dan membuat kesalahan
  • Berbagi informasi dengan sesama PMI yang sudah lebih dulu bekerja di luar negeri
  • Jangan bawa kebiasaan buruk selama di Indonesia saat bekerja di luar negeri

Jasa Penerjemah Tersumpah untuk Kerja di Luar Negeri

Masyarakat yang berencana kerja di luar negeri, disarankan untuk segera mepersiapkan dokumen resmi dan menerjemahkannya ke jasa penerjemah tersumpah.

Jasa penerjemah tersumpah adalah translator dokumen resmi yang mampu menghasilkan hasil terjemahan yang sah dan legal. Layanan tersebut dibutuhkan oleh CPMI saat pengajuan paspor, berurusan dengan imigrasi, dan masih banyak lagi.

Pahami budaya kerja di luar negeri yang perlu diketahui untuk mempermudah Anda bekerja nantinya. Hubungi Transpartner untuk mendapatkan layanan penerjemah tersumpah khusus dokumen.